Lebaran adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Betawi adalah pemberian hantaran atau seserahan dalam rangkaian Lebaran. Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan bahwa tradisi ini merupakan simbol bakti dan kekayaan kuliner masyarakat Betawi.
Menurut Fauzi, tradisi hantaran Lebaran Betawi telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Betawi sejak zaman dahulu. “Tradisi ini merupakan warisan dari leluhur kita yang harus dilestarikan,” kata Fauzi. Ia juga menambahkan bahwa tradisi hantaran Lebaran Betawi tidak hanya sekedar memberikan makanan, tetapi juga sebagai simbol bakti dan rasa syukur kepada Tuhan.
Hantaran Lebaran Betawi biasanya berupa makanan khas Betawi seperti sate, gado-gado, dan es teler. Makanan-makanan ini dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang segar dan berkualitas tinggi. Selain itu, hantaran Lebaran Betawi juga seringkali dilengkapi dengan buah-buahan segar seperti apel, jeruk, dan anggur.
Tradisi hantaran Lebaran Betawi juga memiliki nilai-nilai yang positif seperti gotong royong dan kebersamaan. Masyarakat Betawi biasanya membuat hantaran Lebaran bersama-sama dengan anggota keluarga dan tetangga. Hal ini dapat mempereratkan hubungan sosial dan meningkatkan rasa kebersamaan di antara masyarakat.
Selain itu, tradisi hantaran Lebaran Betawi juga dapat menjadi sarana untuk melestarikan budaya dan tradisi masyarakat Betawi. Dengan melestarikan tradisi ini, masyarakat Betawi dapat mempertahankan identitas dan kearifan lokalnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi hantaran Lebaran Betawi telah mengalami perubahan. Banyak masyarakat Betawi yang mulai meninggalkan tradisi ini karena dianggap kuno dan tidak relevan dengan zaman modern. Namun, masih banyak pula masyarakat Betawi yang tetap melestarikan tradisi ini dengan cara yang lebih modern dan kreatif.
Misalnya, beberapa komunitas masyarakat Betawi telah membuat hantaran Lebaran dengan menggunakan bahan-bahan yang lebih modern dan sehat. Mereka juga menggunakan kemasan yang lebih menarik dan ramah lingkungan. Dengan cara ini, tradisi hantaran Lebaran Betawi dapat tetap lestari dan relevan dengan zaman modern.
Dalam kesempatan lain, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana, mengatakan bahwa tradisi hantaran Lebaran Betawi merupakan bagian dari warisan budaya Betawi yang harus dilestarikan. “Kami akan terus mendukung dan melestarikan tradisi ini agar tetap lestari dan relevan dengan zaman modern,” kata Iwan.
Iwan juga menambahkan bahwa Pemprov DKI Jakarta telah membuat beberapa program untuk melestarikan tradisi hantaran Lebaran Betawi. Misalnya, Pemprov DKI Jakarta telah membuat festival kuliner Betawi yang menampilkan berbagai makanan khas Betawi, termasuk hantaran Lebaran Betawi.
Dalam festival tersebut, pengunjung dapat menikmati berbagai makanan khas Betawi yang lezat dan autentik. Festival ini juga dapat menjadi sarana untuk mempromosikan tradisi hantaran Lebaran Betawi kepada masyarakat luas.
Dengan demikian, tradisi hantaran Lebaran Betawi dapat tetap lestari dan relevan dengan zaman modern. Tradisi ini tidak hanya sekedar memberikan makanan, tetapi juga sebagai simbol bakti dan rasa syukur kepada Tuhan, serta sebagai sarana untuk melestarikan budaya dan tradisi masyarakat Betawi.